Sutradara RI Ungkap Kekuatan Ekosistemnya

Spread the love



Jakarta -
Di usia 50 tahun, Apple tidak hanya dikenal lewat produk seperti Mac dan iPhone, tetapi juga ekosistemnya yang membuat banyak kreator bertahan. Salah satunya adalah sutradara Indonesia, Upie Guava, yang mengandalkan perangkat Apple dalam proses kreatifnya.1 April 2026 menandai setengah abad perjalanan Apple sejak didirikan oleh Steve Jobs, Steve Wozniak, dan Ronald Wayne di sebuah garasi di Los Altos, California. Dari sana, Apple tumbuh menjadi perusahaan teknologi yang mengubah cara dunia bekerja, berkomunikasi, dan berkreasi.
Di Indonesia, dampak itu terasa hingga ke ruang editing para sineas. Bagi Upie, Apple bukan sekadar merek elektronik, melainkan bagian dari cara berpikir dan berkarya.”Yang membuat saya bertahan bukan hanya spesifikasi, tapi ekosistemnya,” ujarnya.MacBook WhitePerjalanan Upie dengan dunia teknologi bermula jauh sebelum ia menyentuh kamera. Tumbuh di era yang penuh dengan imajinasi futuristik ala Back to the Future, Star Wars, MacGyver, hingga gadget canggih James Bond, Upie kecil sudah jatuh cinta pada perpaduan antara sains dan cerita.”Saya sebenarnya ingin jadi scientist,” akunya saat berbincang dengan detikINET. “Tapi matematika dan fisika ternyata tidak semudah yang saya bayangkan.”Ia pun beralih ke desain produk, lalu menemukan jalannya di dunia audiovisual.Di sinilah Apple pertama kali masuk ke dalam hidupnya-dimulai dari MacBook White, laptop yang kala itu menjadi simbol sederhana namun kuat dari filosofi desain Apple: powerful tanpa perlu terlihat rumit.Upie Guava berkarya dengan ekosistem Apple – Guava Foto: Apple


Ekosistem yang Menyambungkan SegalanyaYang membuat Upie bertahan bukan spesifikasi teknis semata, melainkan ekosistem. Semua perangkat dan aplikasi terasa saling terhubung-dan itu mengubah cara ia bekerja secara fundamental.Dalam proses pra-produksi, Upie menggunakan Keynote untuk membangun deck presentasi yang bisa diakses, dikomentari, dan diperbarui bersama seluruh tim lewat iCloud-real time, tanpa hambatan. Untuk brainstorming visual, ia mengandalkan Freeform, papan kanvas digital yang memungkinkan kolaborasi tim secara intuitif.”Ide bisa muncul di mana saja-di mobil, di kafe, atau ketika menunggu seseorang,” kata Upie.Kemampuan berpindah antar perangkat tanpa hambatan inilah yang menurutnya membuat proses kreatif menjadi jauh lebih fleksibel.GarageBand di iPhone atau iPad sering ia gunakan untuk membuat sketsa musik secara spontan, langsung dari genggaman tangan. Sementara di meja editing, Final Cut Pro menjadi senjata utamanya.”Antarmukanya sederhana tapi sangat powerful,” ujar Upie.Salah satu fitur yang ia sebut sebagai pengubah permainan adalah Magnetic Mask-teknologi yang memungkinkan rotoscoping, pekerjaan yang dulu membutuhkan berjam-jam tenaga manusia, kini diselesaikan dalam hitungan detik berkat kecerdasan buatan.Upie Guava – Sutradara Foto: Adi FR/detikINET

Pelangi di MarsUpie menyebut music video sebagai “ruang inkubasi kreatif yang paling ideal”. Di antara semua format audiovisual-iklan, film panjang, konten digital-music video memberikan ruang eksplorasi visual terluas sekaligus tetap berada di wilayah komersial.Di sinilah ekosistem Apple benar-benar diuji. Proses kreatif yang cepat, kolaborasi tim yang fleksibel, dan eksekusi visual yang presisi-semuanya mengalir dalam satu ekosistem yang terhubung. Eksperimen yang lahir di music video kemudian ia bawa ke proyek iklan, dan akhirnya, ke layar lebar.Ambisi terbesar Upie hari ini adalah Pelangi di Mars-sebuah film sci-fi yang ia sebut sebagai “proyek mimpi”. Film ini berkisah tentang seorang anak Indonesia bernama Pelangi yang memimpin ekspedisi robot dari berbagai negara untuk menyelamatkan bumi. Sebuah cerita yang, bagi Upie, lebih dari sekadar hiburan.”Generasi saya tumbuh dengan literasi yang mendorong kita bermimpi besar. Tintin, Indiana Jones, astronaut, ilmuwan,” kenang Upie. “Tapi sekarang banyak anak yang tidak lagi melihat masa depan sebagai sesuatu yang menarik.”Untuk mewujudkan visi besar itu dengan anggaran yang terkendali, Upie memanfaatkan teknologi virtual production berbasis Unreal Engine, teknologi yang sama digunakan dalam serial The Mandalorian. Ia belajar dari YouTube, bereksperimen selama dua tahun, dan akhirnya membangun studio virtual production sendiri di Jakarta pada 2023.Dalam produksi ini pula AI hadir bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat. Upie mengembangkan sistem motion capture berbasis kecerdasan buatan yang menangkap gerakan aktor langsung dari kamera biasa-menghemat biaya kostum mahal sekaligus memberi ia kebebasan untuk mengarahkan aktor secara langsung, bukan sekadar memberikan instruksi ke animator.

Di tengah perkembangan teknologi seperti AI dan virtual production, Upie memiliki prinsip sederhana: tools harus memudahkan, bukan menghambat kreativitas.”Saya tidak belajar teknologi untuk terlihat canggih. Tujuan saya sederhana, memberi ruang lebih besar untuk kreativitas,” tegasnya.Upie Guava – Guava Foto: AppleBagi Upie, Apple menemukan relevansinya di titik tersebut. Ekosistem yang terintegrasi, antarmuka yang intuitif, dan performa yang konsisten membuat teknologi terasa “menghilang” di balik proses kreatif.Di usia 50 tahun, Apple mungkin tidak lagi sekadar soal perangkat seperti iPhone atau Mac. Bagi para kreator, ia telah menjadi bagian dari cara berpikir, bekerja, dan mewujudkan ide.Dan dalam proses itu, teknologi tidak lagi menjadi pusat perhatian-melainkan jembatan yang menghubungkan imajinasi dengan kenyataan.



(afr/fay)



Sumber Asli


Spread the love

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leon

Admin Support