Jepang Terancam Punah, Ilmuwan Tunjuk Biang Keroknya

Spread the love


Jakarta –
Krisis populasi Jepang semakin parah. Mungkin saja jika tidak ditanggulangi, Jepang akan punah suatu saat nanti. Apa sebenarnya akar permasalahannya?Negara ini mencatat hampir satu juta lebih banyak kematian daripada kelahiran di 2024, penurunan populasi tahunan terbesar sejak pencatatan dimulai enam dekade lalu.Data tahun tersebut dari Kementerian Urusan Dalam Negeri menunjukkan hanya 686.061 kelahiran, angka terendah sejak 1899 dan sebanyak 1,59 juta kematian. Bank Dunia juga menempatkan Jepang sebagai negara dengan populasi tertua kedua dunia, hanya dikalahkan Monako.
Mantan Menteri Kesehatan Keizo Takemi sempat menyebut prospek demografi Jepang sudah dalam keadaan kritis dan memperingatkan bahwa negara itu hanya punya waktu hingga tahun 2030-an untuk mengubah arah.Otoritas Jepang melakukan beragam strategi untuk meningkatkan angka kelahiran, termasuk memperluas fasilitas penitipan anak, subsidi perumahan, bahkan meluncurkan aplikasi kencan yang dikelola pemerintah. Pemerintah Tokyo tahun lalu meluncurkan uji coba sistem kerja empat hari dalam seminggu untuk pegawai agar mereka lebih terdorong untuk berkeluarga.Ryuichi Kaneko, pakar demografi dan profesor di Universitas Meiji, mengatakan akar penyebab krisis populasi di Jepang bisa ditarik sejak era pasca perang. Prioritas pada ekonomi yang gila-gilaan membuat sektor lain diabaikan, termasuk hal-hal terkait rumah tangga.”Saya yakin salah satu alasan penurunan angka kelahiran di Jepang menjadi sangat parah adalah karena, pada periode pascaperang, negara tersebut membangun masyarakat yang memprioritaskan aktivitas ekonomi secara ekstrem,” cetusnya seperti dikutip detikINET dari Newsweek.”Sementara pekerjaan yang berkaitan dengan perawatan yang mendukung kehidupan masyarakat seperti pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, dan perawatan lansia diperlakukan sebagai masalah pribadi, dipisahkan dari ranah publik, dan direndahkan nilainya. Dalam kerangka pembagian kerja berdasarkan gender ini, beban perawatan secara tidak proporsional juga dibebankan kepada perempuan,” paparnya.Keinginan orang Jepang membentuk keluarga pun menurun drastis. Menurut survei tahun 2022, di antara orang dewasa yang belum pernah menikah, lebih sedikit yang mengatakan berniat untuk menikah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak yang yakin takkan kesepian bahkan jika terus hidup sendiri. Sekitar sepertiga responden mengatakan tak menginginkan hubungan apapun.Biaya hidup yang tinggi di Jepang, ekonomi dan upah yang stagnan, ruang yang makin terbatas, dan budaya kerja menuntut menjadi alasan mengapa semakin sedikit orang berpacaran atau menikah. Namun bagi wanita, faktor ekonomi bukanlah satu-satunya alasan.Jepang masih masyarakat yang sangat patriarki di mana wanita yang sudah menikah sering diharapkan untuk mengambil peran pengasuh, meskipun pemerintah berupaya untuk lebih melibatkan suami. Karena semua alasan ini, banyak orang menunda menikah. Kemudian mereka berusia 40 tahun dan terhanyut dalam kehidupan lajang. Terlebih, banyak wanita mandiri secara ekonomi.Jepang dalam beberapa tahun terakhir menggandakan upaya mengatasi krisis demografi dengan menyetujui paket USD 5 miliar akhir tahun 2023 untuk memperluas tunjangan anak, meningkatkan perawatan anak, dan meningkatkan dukungan pendidikan.Negara ini juga melonggarkan aturan imigrasi guna membantu mengisi kesenjangan tenaga kerja di sektor seperti perawatan lansia dan manufaktur. Reformasi ini bertujuan melipatgandakan tenaga kerja asing tahun 2040, sehingga lebih banyak pekerja dapat tinggal lebih lama dan membawa keluarga.

(fyk/fyk)



Sumber Asli


Spread the love

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leon

Admin Support