Kereta Cepat di Taiwan Lumpuh: Diretas Pakai Radio Rakitan

Spread the love


Jakarta –
Apa jadinya jika sistem transportasi canggih sekelas kereta cepat bisa dilumpuhkan hanya dengan perangkat radio sederhana? Hal fatal inilah yang baru saja terjadi di Taiwan, ketika seorang mahasiswa bisa menghentikan laju beberapa kereta peluru berkecepatan tinggi hanya dengan bermodalkan pemancar radio rakitan.Pihak Taiwan High Speed Rail (THSR) mengonfirmasi kepada media lokal bahwa insiden tersebut terjadi pada tanggal 5 April lalu. Ulah iseng sang mahasiswa memicu penghentian operasional selama 48 menit dan berdampak langsung pada jadwal perjalanan tiga hingga empat rangkaian kereta cepat.Kekacauan ini bermula dari munculnya sinyal General Alarm palsu yang memicu protokol tanggap darurat sistem kereta, sehingga memaksa masinis untuk menghentikan laju kereta secara manual.
Modus Peretasan Sinyal RadioSinyal darurat semacam itu seharusnya hanya bisa diaktifkan oleh staf stasiun menggunakan peralatan komunikasi khusus. Namun, dalam kasus ini, alarm tersebut ternyata dikirim oleh seorang mahasiswa berusia 23 tahun bermarga Lin.Berdasarkan laporan penyelidikan, berikut adalah cara Lin meretas sistem komunikasi kereta cepat tersebut:Membeli Perangkat Ilegal: Lin menggunakan peralatan Software-Defined Radio (SDR) yang dibelinya secara online.Mendekode Parameter: Ia menganalisis sinyal THSR, mengunduh datanya ke komputer, dan berhasil memecahkan kode parameter komunikasi TETRA (Terrestrial Trunked Radio).Kloning Sinyal: Lin kemudian memprogram kode-kode tersebut ke dalam radio genggam (handheld) miliknya agar sistem mengiranya sebagai suar (beacon) stasiun yang sah.Serangan Jarak Jauh: Sinyal alarm palsu itu ia tembakkan langsung dari kediamannya di Taichung menuju pusat kendali THSR yang berada jauh di Taoyuan. Polisi menyebut Lin juga dibantu oleh seorang rekannya yang berusia 21 tahun untuk mendapatkan beberapa parameter rahasia THSR.Investigasi dan PenangkapanPasca-insiden, pihak THSR langsung memeriksa seluruh peralatan mereka. Karena tidak ada satu pun radio resmi yang dicuri atau disalahgunakan, penyidik menyimpulkan bahwa pelaku melakukan kloning sinyal.Setelah memeriksa rekaman CCTV dan log jaringan TETRA, polisi menggerebek rumah dan tempat kerja Lin pada tanggal 28 April. Dari tangan pelaku, pihak berwenang menyita sejumlah barang bukti krusial, di antaranya:Sebuah laptop dan beberapa unit smartphone.Satu perangkat pemancar SDR.7 hingga 11 unit radio genggam.Mengejutkannya, penyidik juga menemukan fakta bahwa Lin tidak hanya menyadap frekuensi kereta THSR, tetapi juga memiliki akses ke frekuensi radio milik Pemadam Kebakaran New Taipei City dan MRT Jalur Bandara Internasional Taoyuan.Evaluasi Sistem Tua dan Ancaman PenjaraKasus ini sontak memicu alarm kewaspadaan nasional. Kementerian Transportasi dan Komunikasi Taiwan langsung memerintahkan peninjauan ulang terhadap seluruh keamanan komunikasi kereta api.Para anggota parlemen pun menyoroti lemahnya prosedur pemeliharaan dan pembaruan sistem keamanan, mengingat jaringan radio tersebut dilaporkan sudah digunakan selama 19 tahun tanpa pembaruan berarti, sehingga verifikasinya bisa dengan mudah ditembus oleh seorang mahasiswa.Saat ini, Lin telah dibebaskan dengan jaminan sebesar NTD 100.000 (sekitar Rp 49 jutaan). Melalui pengacaranya, Lin berdalih bahwa transmisi sinyal darurat pada 5 April tersebut adalah sebuah “ketidaksengajaan”.Namun, pihak jaksa penuntut tampaknya tidak termakan alasan tersebut. Jika terbukti bersalah, Lin dihadapkan pada ancaman hukuman penjara yang panjang atas tuduhan membahayakan transportasi umum dan melakukan gangguan frekuensi radio secara ilegal, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (8/5/2026).

(asj/asj)



Sumber Asli


Spread the love

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leon

Admin Support