Jakarta (ANTARA) – China terkenal sebagai negara dengan jaringan kereta api tercepat dan terluas di dunia, dengan lebih dari 50.400 kilometer jaringan kereta api cepat yang sudah beroperasi.
Dalam dua puluh tahun terakhir, negara ini berhasil membangun sistem transportasi rel modern yang menghubungkan wilayah dalam ribuan kilometer dengan tingkat keselamatan operasional yang sangat tinggi. Keberhasilan ini tidak hanya didukung oleh teknologi kereta cepat, tetapi juga oleh penerapan protokol keselamatan yang ketat, terintegrasi, dan berbasis digital.
China pernah mengalami kecelakaan kereta di Wenzhou pada tahun 2011, yang menewaskan puluhan orang. Insiden ini menjadi tonggak reformasi keselamatan kereta nasional.
Setelah kecelakaan tersebut, pemerintah China melakukan audit menyeluruh terhadap sistem sinyal, mengevaluasi teknologi kontrol kereta, meningkatkan standar inspeksi, memperketat sertifikasi operator, serta melakukan modernisasi sistem komunikasi. Reformasi ini membuat tingkat keselamatan kereta cepat di China meningkat secara signifikan dalam dekade yang mengikuti.

Salah satu aspek utama keselamatan perkeretaapian di China adalah penerapan Chinese Train Control System (CTCS), yang merupakan sistem pengendalian kereta otomatis dirancang khusus untuk jaringan rel nasional China.
Sistem ini berfungsi mengontrol kecepatan kereta secara otomatis, mencegah tabrakan antar kereta, mengatur jarak aman perjalanan, menyediakan perlindungan pengereman otomatis, dan memantau posisi kereta secara real-time.
CTCS terdiri dari beberapa tingkat teknologi, mulai dari CTCS-0 hingga CTCS-4. Pada jalur kereta cepat modern, China biasanya menggunakan CTCS-3, yang mendukung komunikasi digital dua arah berbasis GSM-R antara kereta dan pusat kendali.
Pada sistem CTCS-3, posisi kereta dipantau secara kontinu, pusat kontrol dapat memberikan izin perjalanan secara real-time, dan sistem otomatis akan mengaktifkan pengereman jika masinis melanggar batas kecepatan, sementara jalur kereta dipantau menggunakan balise, track circuit, dan radio block center.
Teknologi ini mirip dengan sistem ETCS Level 2 di Eropa dan dianggap sebagai salah satu sistem pengendalian kereta paling maju di dunia.
China menerapkan sistem operasi berbasis pusat kendali nasional yang dapat memantau lalu lintas kereta secara bersamaan. Semua perjalanan kereta cepat diawasi melalui Traffic Control Center (TCC), Radio Block Center (RBC), sistem komunikasi GSM-R, serta pemantauan digital berbasis AI dan big data.

Keselamatan rel di China sangat bergantung pada inspeksi berkala yang ketat. Jalur kereta cepat diawasi menggunakan kereta inspeksi berkecepatan tinggi, sensor getaran rel, pemantauan suhu rel, drone peninjau jalur, hingga kamera AI pengdeteksi retakan.
Inspeksi dilakukan hampir setiap hari di jalur utama kereta cepat. Teknologi sensor memungkinkan deteksi kerusakan kecil sebelum berkembang menjadi kegagalan sistem.
Selain itu, China menerapkan prinsip pemeliharaan pencegahan, yaitu perawatan sebelum kerusakan terjadi. Pendekatan ini secara drastis mengurangi level gangguan operasional.
Inspeksi dilakukan berulang kali selama periode sibuk seperti libur Tahun Baru, Tahun Baru Imlek, dan Hari Buruh. Pada liburan Hari Buruh tahun ini saja, jumlah perjalanan penumpang yang dilayani oleh jaringan perkeretaapian China antara 29 April hingga 6 Mei tercatat mencapai 159 juta.
Sehubungan dengan protokol keselamatan, masinis kereta di China menjalani pelatihan yang sangat ketat dan terstandarisasi. Protokol keselamatan mencakup sertifikasi nasional bagi operator, simulasi keadaan darurat, pemeriksaan kesehatan berkala, pengawasan jam kerja, serta larangan penggunaan perangkat pribadi saat bertugas.
Kabin masinis juga dilengkapi dengan sistem pengawasan digital yang memantau konsentrasi masinis, respons terhadap sinyal, kecepatan reaksi, dan kondisi operasional kereta. Jika masinis tidak merespons sistem dalam waktu tertentu, sistem ATP (Automatic Train Protection) dapat mengambil alih pengereman secara otomatis.

Kereta modern di China juga dilengkapi sistem pemadam kebakaran otomatis, rem darurat, sensor asap, komunikasi darurat dua arah, serta pintu evakuasi otomatis.
Sebagian besar jalur kereta cepat dibangun di jalur layang atau koridor tertutup untuk menghindari gangguan dari kendaraan maupun manusia.



Comments are closed