Jakarta (ANTARA) – Ketua Grup Produk Audio Video Polytron, Bambang Athung, membagikan strategi Polytron untuk terus menghadirkan laptop di pasar Indonesia meskipun dalam keadaan global saat ini ada krisis memori dan harga yang terus meningkat.
Bambang menyatakan bahwa perusahaannya berusaha menciptakan keseimbangan antara pengalaman konsumen dan harga yang ditawarkan.
“Insight-nya adalah kita mencari produk yang sesuai dengan konsumen kita, baik dari segi performa maupun harga. Sebisa mungkin, kami memberikan opsi terbaik bagi konsumen kami,” ungkap Bambang pada peluncuran laptop Polytron New Luxia di Jakarta, Senin.
Untuk laptop terbarunya, yaitu New Luxia, Bambang menjelaskan bahwa pihaknya memilih chip AMD Ryzen 5 7000 series yang dianggap memiliki harga dan pengalaman optimal untuk calon pelanggannya.
Chip AMD Ryzen 5 7000 series yang dirilis pada 2023 dikenal memiliki keunggulan dalam efisiensi daya.
Chip ini umumnya tersedia di laptop-laptop entry level maupun mid-range, yang biasanya ditujukan untuk pelajar dan pekerja kantoran.
Bambang menambahkan bahwa jika hanya fokus pada harga, pihaknya dapat memilih chip yang lebih lama seperti AMD Ryzen 5 3000 series. Namun, demi pengalaman pengguna, mereka tetap memilih AMD Ryzen 5 7000 series.
“AMD R5 (Ryzen 5) seri 3000 sebenarnya masih ada di pasaran, tetapi kami tidak memilihnya karena mempertimbangkan kebutuhan konsumen. Kami anggap ini sebagai salah satu opsi terbaik yang dapat kami tawarkan,” kata Bambang.
Ketika ditanya tentang potensi kenaikan harga jika krisis berlanjut, Bambang mengakui hal tersebut mungkin dilakukan oleh Polytron.
Akan tetapi, kenaikan harga akan disesuaikan dengan kondisi dominasi pasar.
“Kita mungkin perlu menjaga price agar tetap ‘seksi’ dan menarik bagi konsumen. Namun, kami tidak akan menurunkan kualitas,” tegas Bambang.
Dari laporan International Data Corporation (IDC) di akhir 2025, ditemukan bahwa ekosistem semikonduktor global mengalami kekurangan chip memori yang diperkirakan akan berlanjut hingga 2027.
Kondisi ini terjadi karena adanya permintaan dari pusat data AI yang terus melampaui pasokan, menciptakan ketidakseimbangan dalam rantai pasokan.



Comments are closed