Membangun Ekosistem AI yang Aman untuk Mempererat Diaspora Indonesia di Silicon Valley

  • Home
  • IT Solution
  • Membangun Ekosistem AI yang Aman untuk Mempererat Diaspora Indonesia di Silicon Valley
Spread the love

Denpasar (ANTARA) – Impian untuk membangun infrastruktur yang menjadikan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) lebih handal dan aplikatif dalam dunia bisnis mendorong Claudia Natasia untuk berkarir di Silicon Valley, California, Amerika Serikat.

“Salah satu alasan yang mendorong saya untuk fokus pada bidang ini adalah karena saya memang mencintainya,” ujar Claudia saat ditemui di Bali Tech Week (BTW) 2026 di Denpasar, Bali pada Rabu (21/10).

Seorang diaspora Indonesia, Claudia sebelumnya tinggal cukup lama di Jakarta. Ia menyelesaikan pendidikan di Universitas of California, Berkeley dengan jurusan yang mencakup statistik, ekonomi, dan ilmu komputer untuk meraih gelar sarjana dan MBA.

Setelah lulus, Claudia mendirikan perusahaan bernama Riley AI dan menetap di San Francisco hingga kini. Di perusahaan tersebut, ia berperan sebagai pendiri dan pemimpin.

Perusahaan ini mengembangkan infrastruktur yang menghubungkan data perusahaan dengan kecerdasan buatan, sehingga AI dapat memahami konteks bisnis yang diperlukan untuk menganalisis pelanggan, pendapatan, dan operasional perusahaan dengan akurat. Dengan dukungan AI, data pelanggan dan bisnis yang kompleks dapat dimanfaatkan untuk pengambilan keputusan dan mendorong pertumbuhan perusahaan.

Sebelum merintis Riley, Claudia juga pernah memimpin pengembangan produk, ilmu data, dan riset di berbagai perusahaan teknologi yang berkembang pesat, serta berkontribusi dalam pengembangan dan ekspansi bisnis.

Menurut Claudia, ekosistem AI di seluruh dunia berkembang sangat pesat dan semua orang berlomba-lomba menghadirkan fitur-fitur canggih. Semua ini disesuaikan dengan preferensi pengguna dan dirangkum dalam satu informasi yang komprehensif.

Namun, ia menilai masih minim pihak yang berkontribusi dalam membangun infrastruktur yang dapat menjamin keamanan dan kenyamanan pengguna saat memanfaatkannya.

“Dari apa yang saya ketahui, sudah banyak start up di Indonesia, akan tetapi, belum banyak start up yang fokus pada pembangunan infrastruktur,” ujarnya.

Ia membangun Riley sebagai infrastruktur pusat untuk aplikasi Model Bahasa Besar (LLM) seperti ChatGPT dan Gemini.

Upaya ini diharapkan bisa menumbuhkan kepercayaan pelanggan serta menunjukkan bahwa perempuan juga dapat bersaing dan memberikan kontribusi nyata di bidang yang didominasi oleh talenta laki-laki.

Ketekunan yang diperlihatkannya pun membuahkan hasil. Saat ini, Riley AI telah berhasil memasuki pasar internasional, dengan sebagian besar penggunanya beraktivitas di sektor teknologi dan finansial dari Amerika Serikat, Eropa, Republik Ceko hingga Indonesia.

Claudia mempercayai bahwa ekosistem digital di Indonesia memiliki masa depan yang cerah, salah satunya karena banyak anak bangsa yang antusias mempelajari AI dan teknologi.

Potensi ini semakin berkembang dengan dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Digital dalam rangka mengembangkan talenta digital, melalui Garuda Spark Innovation Hub yang kini beroperasi di 10 kota besar di Indonesia dengan 178 program yang telah dilaksanakan.

Dalam pelaksanaan program-program ini, pemerintah telah melatih lebih dari 15 ribu talenta digital, membina 80 perusahaan rintisan, serta melibatkan 80 mitra dengan total investasi langsung sebesar Rp429,5 miliar.

Pakar start up disarankan untuk mulai mengembangkan Minimum Viable Product (MVP) yang mudah digunakan dengan memanfaatkan AI Tools, kemudian mencari satu atau dua pelanggan dari lingkaran pertemanan mereka.

Sumber Asli


Spread the love

Comments are closed

Leon

Admin Support