Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebutkan bahwa 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia kini telah memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan generatif atau generative artificial intelligence (AI) dalam aktivitas sehari-hari mereka.
“Menurut Work Trend Index 2024 yang dirilis Microsoft dan LinkedIn, sebanyak 92 persen pekerja berbasis pengetahuan di Indonesia telah memanfaatkan generative AI dalam aktivitas mereka sehari-hari,” ujarnya pada Garuda AI Impact Summit 2026 di Jakarta, Kamis.
Dia menambahkan, angka ini bahkan melampaui rata-rata global, menandakan bahwa Indonesia bukan hanya penonton dalam perkembangan teknologi AI di skala internasional.
Di sisi lain, biaya penggunaan AI juga mengalami penurunan yang signifikan. Nezar mengungkapkan bahwa biaya akses AI berkurang lebih dari 280 kali lipat antara 2022 hingga 2024, sehingga teknologi ini semakin mudah diakses oleh masyarakat.
“AI yang dulunya mahal kini dapat diakses oleh siapa saja,” katanya.
Nezar menyoroti bahwa tingginya pemanfaatan AI di Indonesia menunjukkan teknologi ini telah beralih dari fase eksperimen menuju penggunaan yang lebih meluas dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Ia merujuk pada AI Index Report 2024 yang mencatat bahwa tingkat adopsi generative AI telah mencapai 53 persen dari populasi dalam kurun waktu tiga tahun. Menurutnya, kecepatan adopsi ini jauh lebih cepat dibandingkan adopsi komputer pribadi dan internet pada tahap awal perkembangannya.
Selain itu, sebanya 88 persen organisasi juga sudah mengadopsi AI dalam berbagai aktivitas operasional mereka.
Meskipun demikian, Nezar mengingatkan bahwa tingginya tingkat adopsi AI harus diimbangi dengan upaya pemerataan akses serta peningkatan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi ini secara produktif.
Ia menilai tantangan transformasi digital ke depan tidak lagi hanya terkait dengan memastikan masyarakat terhubung dengan internet, tetapi juga memastikan mereka mampu menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah.
“Kesenjangan di masa depan tidak hanya akan terjadi antara mereka yang terhubung dan tidak terhubung, tetapi juga antara mereka yang mampu menggunakan AI secara produktif dan mereka yang tertinggal dalam transformasi ini,” ujarnya.
Nezar menambahkan bahwa pemerintah terus berupaya untuk mendorong pengembangan talenta digital dan literasi AI agar manfaat teknologi ini bisa dirasakan secara luas oleh seluruh lapisan masyarakat.



Comments are closed