Jakarta –
Film tahun 2014, Transcendence, mengisahkan seorang ilmuwan sekarat yang mengunggah pikirannya ke superkomputer dan menjadi entitas cerdas yang nyaris mahakuasa. Setahun kemudian, Ex Machina menceritakan kisah robot humanoid yang mengecoh manusia dan melarikan diri.Kedua film ini merujuk pada singularitas, waktu di mana teknologi khususnya AI melampaui kecerdasan manusia dan sulit dikendalikan. Nah bos OpenAI Sam Altman baru saja menyatakan bahwa momen tersebut telah tiba. AI telah mencapai singularitas.Meskipun Altman menekankan singularitas bisa berdampak baik bagi dunia, komentarnya memicu kekhawatiran. Di sisi lain, sejumlah pakar tidak setuju bahwa kita telah mencapai singularitas, atau bahwa AI sudah hampir melampaui kecerdasan manusia maupun merebut pekerjaan.
Apa itu singularitas?Singularitas merujuk titik hipotesis di masa depan ketika teknologi seperti AI melampaui kecerdasan manusia dan mampu meningkatkan diri secara otonom. Ini adalah titik di mana manusia akan kesulitan untuk mengendalikan atau membalikkannya, dan dapat menimbulkan efek yang tidak terprediksi.Teori tersebut mengusulkan bahwa begitu AI mendapatkan kendali atas pengembangannya sendiri, kemajuan teknologi yang menyusul bisa terjadi begitu cepat sehingga manusia tak mampu mengimbanginya dan membiarkannya berevolusi.Karena baru teori, sulit memastikan seperti apa dampaknya. Beberapa pakar memperingatkan singularitas akan menjadi bencana sementara yang lebih optimis menilai hal itu bisa bermanfaat.Sejauh ini, singularitas masih terbatas fiksi ilmiah. Salah satu contoh terkenal adalah trilogi The Matrix yang membayangkan masa depan suram pasca singularitas di mana mesin memerintah manusia.Altman adalah CEO OpenAI, yang produk andalannya ChatGPT mendominasi pasar AI konsumen dengan lebih dari 900 juta pengguna aktif mingguan. Tahun lalu, ia memprediksi AI akan melampaui kecerdasan manusia di 2030.Kemudian saat tampil di podcast Relentless baru-baru ini, dia membahas singularitas. “Kita sekarang sepertinya berada di dalam singularitas. Sayamenunggu hal ini sepanjang hidup saya, dan saya pikir ini akan menjadi luar biasa, sangat positif, dan mengagumkan bagi dunia,” katanya.Altman mengkritik para pemimpin AI lainnya karena memperingatkan AI mungkin berbahaya. “Saya akan memastikan hal itu dilawan dan tidak menjadi kenyataan,” sebutnya.Bulan lalu, Anthropic, perusahaan di balik chatbot Claude, menyerukan kepada perusahaan AI teratas dunia untuk merumuskan cara terkoordinasi guna menghentikan sementara pengembangan sistem AI tingkat lanjut. Mereka memperingatkan teknologi ini berkembang begitu cepat sehingga ada risiko manusia kehilangan kendali.Pada 23 Juli, dua anggota Kongres Amerika Serikat memperkenalkan UU AI Kill Switch Act, RUU bipartisan yang akan mewajibkan pengembang AI di AS membangun ‘tombol pematian’ pada program mereka untuk memperlambat, menangguhkan, atau mematikan AI jika menimbulkan risiko.Apa kata pakar?Sean O hEigeartaigh, direktur eksekutif Cambridge University’s Centre for the Study of Existential Risk mengatakan kepada Al Jazeera yang dikutip detikINET bahwa ia tidak percaya AI telah mencapai singularitas.”Berdasarkan definisi yang saya pahami, singularitas adalah titik hipotesis di mana AI begitu mumpuni dan maju sangat cepat sehingga mengubah peradaban dengan cara yang tidak dapat kita kendalikan atau prediksi. Ini kemungkinan besar akan terjadi melalui AI yang dengan cepat merancang generasi AI di masa depan. Kita belum sampai di sana,” paparnya.Mei 2026, ilmuwan komputer Demis Hassabis mengatakan kita berada di ‘kaki bukit’ singularitas. hEigeartaigh lebih setuju dengannya. “Kita tentu mulai melihat terobosan mengesankan dalam matematika dan ilmu pengetahuan lain yang digerakkan AI, tugas seperti pemrograman mulai digerakkan AI dan kita melihat ancaman skala besar di bidang seperti keamanan siber,” katanya.
(fyk/fay)


