Jakarta –
Bagaimana bunyi medan magnet Bumi ketika perlindungannya melemah dan kutub magnetiknya berubah? Ilmuwan berhasil membuat rekonstruksi suara dari salah satu peristiwa geomagnetik paling dramatis dalam sejarah Bumi.Hasilnya terdengar cukup mengerikan, seperti suara benda retak, bergemuruh, dan berbenturan. Peristiwa tersebut terjadi sekitar 41.000 tahun lalu dan dikenal sebagai Laschamps excursion. Saat itu, medan magnet Bumi melemah secara drastis sebelum akhirnya kembali ke konfigurasi normal.Namun, suara yang terdengar bukan rekaman langsung dari masa lalu. Ilmuwan mengubah data perubahan medan magnet menjadi representasi audio menggunakan teknik yang disebut sonifikasi.
Medan magnet Bumi tidak dapat didengar secara langsung oleh telinga manusia. Karena itu, para ilmuwan dari Technical University of Denmark (DTU) dan German Research Centre for Geosciences (GFZ) menggunakan data dari satelit Swarm milik European Space Agency (ESA), kemudian memetakan perubahan medan magnet menjadi suara.Rekonstruksi tersebut juga menggunakan bukti perubahan medan magnet yang tersimpan dalam batuan dan sedimen. ESA menjelaskan prosesnya seperti menyusun musik dari sebuah partitur.”Proses mengubah suara dengan data mirip dengan menyusun musik dari sebuah partitur,” demikian penjelasan ESA mengenai proyek tersebut, seperti dikutip dari Science Alert.[Gambas:Youtube]Bedanya, ‘partitur’ nada ini berasal dari perubahan medan magnet planet yang terjadi puluhan ribu tahun lalu. Untuk membuat hasilnya lebih mudah dibayangkan, rekaman suara alami seperti kayu yang berderit dan batu yang bertabrakan digunakan dalam proses sonifikasi. Hasil akhirnya terdengar seperti suara asing dan bergemuruh.Di balik suara yang menyeramkan tersebut terdapat peristiwa geologi yang sangat penting. Medan magnet Bumi dihasilkan terutama oleh gerakan logam cair yang sangat panas di inti luar planet, sekitar 3.000 kilometer di bawah permukaan. Gerakan material tersebut menghasilkan arus listrik yang kemudian membentuk medan magnet Bumi.Medan magnet ini berfungsi seperti perisai yang membantu melindungi Bumi dari partikel bermuatan dan radiasi yang datang dari luar angkasa. Ketika peristiwa Laschamps terjadi, perlindungan tersebut melemah secara ekstrem. Menurut rekonstruksi ilmiah, kekuatan medan magnet Bumi sempat turun hingga sekitar 5% dari kekuatan saat ini. Peristiwa pembalikan atau perubahan orientasi medan tersebut berlangsung sekitar 250 tahun, kemudian medan berada dalam orientasi yang tidak biasa selama sekitar 440 tahun.Data dari inti es dan sedimen laut juga menunjukkan peningkatan isotop berilium-10 pada periode tersebut. Isotop ini terbentuk ketika sinar kosmik berinteraksi dengan atmosfer, sehingga peningkatannya menjadi petunjuk bahwa lebih banyak radiasi kosmik mencapai atmosfer Bumi.”Perisai radiasi kosmik kita benar-benar hilang,” kata Ilmuwan Bumi Chris Turney, yang meneliti penanggalan peristiwa tersebut.Pembalikan kutub magnet sebenarnya merupakan fenomena alami dalam sejarah Bumi. Catatan paleomagnetik menunjukkan kutub magnet Bumi telah mengalami pembalikan berkali-kali. NASA mencatat terdapat 183 pembalikan dalam 83 juta tahun terakhir, sementara jarak waktunya sangat bervariasi.Namun, suara dari Laschamps bukan pertanda bahwa peristiwa serupa akan segera terjadi. Medan magnet Bumi memang terus berubah. Kutub magnet utara juga terus bergerak, sementara wilayah South Atlantic Anomaly memiliki medan magnet yang relatif lemah. Tetapi perubahan tersebut tidak otomatis berarti Bumi sedang menuju pembalikan kutub dalam waktu dekat.Justru karena itulah rekonstruksi Laschamps penting. Dengan mengubah data masa lalu menjadi sesuatu yang dapat ‘didengar’, ilmuwan memiliki cara lain untuk menggambarkan bagaimana medan magnet planet berubah dari waktu ke waktu.
(rns/rns)
`;
constructor() {
super()
this.attachShadow({ mode: “open” })
this.shadowRoot.innerHTML = TentangPenulis.html
}
async connectedCallback() {
if (elementType === ‘single’) return false;
this.SwiperClass = Swiper;
const swiperContainer = this.shadowRoot.querySelector(‘.mySwiper’);
new this.SwiperClass(swiperContainer, {
slidesPerView: 1,
spaceBetween: 18,
navigation: {
nextEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-next”),
prevEl: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-button-prev”),
},
pagination: {
el: this.shadowRoot.querySelector(“.swiper-pagination”),
clickable: true,
},
});
}
}
customElements.define(elementTemplate, TentangPenulis)


