Jakarta (ANTARA) – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria berpendapat bahwa permainan fisik seperti egrang bisa berfungsi sebagai tombol jeda yang membantu anak-anak dalam menjaga keseimbangan emosional, interaksi sosial, dan kesehatan mental.
“Permainan egrang dapat menjadi tombol pause, cara untuk menghentikan sejenak dari intensitas tinggi yang ada dalam ruang digital. Aktivitas fisik ini memberikan banyak pelajaran tentang keseimbangan, kerja sama, dan gotong royong,” ujarnya saat dikutip dari siaran pers yang diterima dan dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Permainan tradisional egrang juga dianggap relevan di tengah tingginya aktivitas anak-anak yang terikat dengan dunia digital.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan baru bagi anak-anak.
Saat ini, penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,26 persen dari populasi, dengan sekitar 230 juta masyarakat yang terhubung ke internet dan jaringan telekomunikasi menjangkau 97 persen wilayah berpenghuni.
Dibalik prestasi tersebut, Wamen Nezar Patria menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi sosial di dunia nyata.
“Kita sekarang tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga hidup di dalamnya. Banyak permainan anak yang mulai tersisih oleh ruang digital. Egrang adalah salah satu yang tetap bertahan karena dijaga oleh komunitas,” katanya.
Ia berpendapat bahwa perlindungan anak di dunia digital tidak hanya bergantung pada regulasi platform digital, tetapi juga memerlukan lingkungan sosial yang sehat di dunia nyata.
“Bermain egrang bukan hanya sekadar permainan tradisional. Anak-anak dapat kembali berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, belajar menjaga keseimbangan, belajar bekerja sama, dan membangun keberanian lewat pengalaman nyata,” tuturnya.
Ia juga menyoroti nilai karakter yang ditanamkan melalui permainan tradisional. Dalam permainan egrang, anak-anak belajar untuk bangkit setelah jatuh dan saling memberi semangat, bukannya saling mengejek.
Nezar berharap anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga kuat secara emosional dan sosial.
“Saya yakin setiap anak Indonesia bisa menjadi tunas yang tumbuh sehat, baik di dunia nyata maupun digital, demi masa depan Indonesia yang lebih baik,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa semangat Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP TUNAS harus berjalan seiring dengan penguatan keluarga dan komunitas.
Kementerian Komdigi memberikan apresiasi kepada Festival Egrang Ledokombo sebagai ruang budaya dan sosial yang mendukung anak-anak untuk tumbuh sehat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.



Comments are closed