Kegaduhan Trump Serang Paus Leo XIV di Medsos Tiga Hari Terakhir

  • Home
  • IT Solution
  • Kegaduhan Trump Serang Paus Leo XIV di Medsos Tiga Hari Terakhir
Spread the love



Jakarta -
Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat kegaduhan dengan Paus Leo XIV. Selama tiga hari terakhir, Trump bersuara di media sosial Truth Social yang merupakan platform besutannya.Jadi begini. Awalnya, diplomat tertinggi dari Vatikan kena tegur para pejabat Pentagon atas beberapa komentar Paus Leo XIV yang dianggap sebagai kritik terhadap pemerintahan Trump. Meskipun Vatikan mengkonfirmasi bahwa Kardinal Christophe Pierre telah bertemu dengan Eldridge Colby, wakil menteri perang AS untuk kebijakan, mereka bersikeras bahwa itu adalah ‘bagian dari misi rutin Perwakilan Kepausan dan memberikan kesempatan untuk bertukar pandangan tentang hal-hal yang saling menguntungkan’.Melansir Mirror, Rabu (15/4/2026), cerita ini menyebar dan berkembang, membuat narasi bahwa AS-Vatikan berselisih.
Pada hari Sabtu, Paus Leo memberikan beberapa komentar pada doa malam Vatikan, mengatakan bahwa Perang Iran telah dipicu oleh khayalan kemahakuasaan yang mengelilingi manusia dan menjadi semakin tidak terduga juga agresif.”Kepada mereka kita berseru: hentikan! Sudah waktunya untuk perdamaian! Duduklah di meja dialog dan mediasi – bukan di meja tempat persenjataan ulang direncanakan dan tindakan mematikan diputuskan,” serunya dalam pesan yang ditujukan ke para pemimpin dunia.”Cukup sudah pemujaan diri dan uang! Cukup sudah pamer kekuasaan! Cukup sudah perang! Kekuatan sejati ditunjukkan dalam melayani kehidupan,” tambahnya.Kemudian ada laporan bahwa Paus Leo telah memanggil ahli strategi Obama, David Axelrod, untuk bertemu di Vatikan. Ini yang tampaknya menjadi pemicu besar bagi Trump.Trump mengadu di Truth SocialPada Minggu malam, Trump memposting tulisan panjang di Truth Social, menyerang Paus. Dia menyebut Paus Leo lemah soal kejahatan dan politik luar negeri.”Dia berbicara tentang ‘ketakutan’ terhadap Pemerintahan Trump, tetapi tidak menyebutkan KETAKUTAN yang dialami Gereja Katolik dan semua Organisasi Kristen lainnya selama COVID ketika mereka menangkap para imam, pendeta, dan semua orang lain karena mengadakan kebaktian gereja, bahkan ketika berada di luar ruangan dan menjaga jarak sepuluh bahkan dua puluh kaki,” ujarnya.Trump kemudian menyatakan bahwa ia lebih menyukai saudara Paus Leo, Louis Prevost yang merupakan seorang pendukung MAGA (Make America Great Again) dari Florida.”Dia mengerti, dan Leo tidak! Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir. Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir mengerikan bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan sejumlah besar narkoba ke Amerika Serikat dan, yang lebih buruk lagi, mengosongkan penjara mereka, termasuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke negara kita,” ungkapnya.


Dia juga menuturkan tidak menginginkan seorang Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat karena dia telah melakukan persis apa yang membuatnya dipilih. Dia pun memuji dirinya dengan ‘kemenangan telak’, ‘menetapkan angka kejahatan terendah sepanjang sejarah’, dan ‘menciptakan pasar saham terbesar dalam sejarah’.Presiden AS menyarankan Paus Leo seharusnya bersyukur karena ia terpilih sebagai Paus hanya karena dirinya. Unggahan Trump berlanjut bahwa sikap Paus Leo yang ‘lemah terhadap kejahatan dan lemah terhadap senjata nuklir’, tidak sesuai dengan dirinya.”Begitu pula fakta bahwa ia bertemu dengan simpatisan Obama seperti David Axelrod, seorang PECUNDANG dari sayap kiri, yang merupakan salah satu orang yang menginginkan jemaat gereja dan rohaniwan ditangkap. Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti menuruti keinginan sayap kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan politisi. Hal itu sangat merugikannya dan, yang lebih penting, merugikan Gereja Katolik!” tuturnya.Trump dan Foto AISetelah kisruh dengan Paus Leo, Donald Trump mengunggah gambar hasil AI di media sosial Truth Social yang menampilkan dirinya sebagai sosok mirip Yesus. Lengkap dengan cahaya ilahi memancar dari tangannya saat ia ‘menyembuhkan’ seorang pria sakit di ranjang, sementara sosok iblis melayang di latar belakang.Trump kemudian menghapus unggahan itu, mungkin karena menghadapi banyak kecaman.Ketika wartawan bertanya kepada Trump apakah ia memang mengunggah konten yang menggambarkan dirinya sebagai Yesus Kristus, Trump menjawab gambar itu adalah dirinya sebagai dokter. “Gambar itu seharusnya adalah saya sebagai seorang dokter yang membuat orang-orang menjadi lebih baik,” jawabnya.Adapun JD Vance, wakil presiden, menyebut gambar mirip Yesus itu sebagai lelucon. “Tentu saja dia menghapusnya karena menyadari banyak orang tidak memahami humornya,” jelas Vance.Paus Leo Ogah Tunduk pada TrumpBerbicara kepada wartawan di pesawat kepausan selama kunjungan ke Afrika, Paus menanggapi soal serangan Trump. Ia mengatakan bahwa ia tidak merasa dan melihat dirinya sebagai seorang politisi.”Saya bukan politisi, dan saya tidak ingin terlibat dalam debat dengannya. Saya tidak berpikir pesan Injil harus disalahgunakan seperti yang dilakukan beberapa orang. Saya terus berbicara dengan tegas menentang perang, berupaya mempromosikan perdamaian, dialog, dan multilateralisme antar negara untuk menemukan solusi atas masalah,” akunya.Paus Leo menyebut sudah terlalu banyak orang yang menderita saat ini, terlalu banyak nyawa tak berdosa yang hilang, dan dirinya percaya seseorang harus berdiri menyuarakan hal yang lebih baik.”Saya mengatakan ini kepada semua pemimpin dunia, bukan hanya kepadanya (Trump): mari kita akhiri perang dan promosikan perdamaian dan rekonsiliasi,” ucapnya.Lebih lanjut, Paus Leo mengaku tidak takut dengan pemerintahan Trump.”Saya tidak takut pada pemerintahan Trump atau berbicara lantang tentang pesan Injil, yang menurut saya adalah tugas saya di sini, tugas Gereja di sini,” tandasnya.



(ask/rns)



Sumber Asli


Spread the love

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leon

Admin Support