Jakarta -
Berawal dari pengalaman snorkeling di Nusa Penida, Bali, Brigitta Gunawan kini dikenal sebagai anak muda Indonesia yang aktif menyelamatkan terumbu karang lewat pendekatan teknologi dan edukasi. Kisahnya menunjukkan bagaimana generasi muda bisa berperan nyata dalam menghadapi krisis lingkungan global.Perjalanan Brigitta dimulai saat remaja, ketika ia pertama kali melihat langsung keindahan bawah laut di Nusa Penida. Pengalaman tersebut membuka matanya bahwa ekosistem laut-khususnya terumbu karang-memiliki peran penting, namun juga berada dalam kondisi rentan akibat perubahan iklim, polusi, hingga praktik penangkapan ikan berlebih.Menurut data UN Environment Programme (UNEP), hingga 90% terumbu karang dunia berpotensi hilang pada 2050 jika tidak ada aksi serius. Padahal, lebih dari satu miliar orang di dunia bergantung pada laut untuk mata pencaharian dan ketahanan pangan.
Dari Hashtag Jadi Gerakan NyataPada 2021, di usia 17 tahun, Brigitta meluncurkan gerakan 30×30 Indonesia-sebuah inisiatif yang terinspirasi dari target global melindungi 30% lautan dunia pada 2030. Awalnya, gerakan ini hanya berupa kampanye media sosial berbasis hashtag.Namun respons publik cukup besar. Dalam waktu satu bulan, lebih dari 400 unggahan dukungan muncul dari berbagai komunitas, termasuk pelajar dan kelompok pemuda yang sebelumnya belum mengenal isu konservasi laut.Gerakan ini kemudian berkembang menjadi aksi nyata di lapangan. Brigitta bersama komunitas lokal dan penyelam di Bali membangun taman karang buatan (artificial reef). Dalam lima tahun terakhir, mereka telah menanam lebih dari 1.400 fragmen karang dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai 86%.Kursus daring Diverseas memperluas pendidikan kelautan melampaui ruang kelas, menjangkau siswa di lebih dari 10 negara. Foto: Samsung IndonesiaTeknologi 360 Derajat untuk Edukasi LautTak hanya fokus pada restorasi, Brigitta juga menaruh perhatian besar pada edukasi. Ia menyadari bahwa banyak orang belum pernah melihat langsung keindahan bawah laut, sehingga sulit memahami pentingnya konservasi.Untuk itu, pada 2024 ia meluncurkan Diverseas, program edukasi berbasis teknologi yang memanfaatkan video bawah laut 360 derajat. Dengan bantuan headset VR, siswa dapat merasakan pengalaman seolah berada langsung di dasar laut.Program ini telah menjangkau lebih dari 20.000 peserta di 12 negara melalui workshop, kursus online, hingga pelatihan penyelam. Diverseas menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan literasi kelautan secara imersif.Dalam aktivitasnya, Brigitta juga memanfaatkan perangkat dari Samsung untuk dokumentasi dan distribusi konten edukasi agar lebih mudah diakses oleh generasi muda.
Diakui Dunia InternasionalAtas kiprahnya, Brigitta terpilih sebagai Generation17 Young Leader, program kolaborasi antara Samsung dan United Nations Development Programme yang mendukung pemimpin muda dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).Brigitta dan tim dengan cermat menempelkan fragmen karang pada struktur restorasi, sambil memantau dan melacak pertumbuhannya. Foto: Samsung IndonesiaIa juga menyandang berbagai penghargaan, termasuk National Geographic Young Explorer dan Millennium Oceans Prize. Selain itu, Brigitta aktif terlibat dalam forum internasional seperti pekan tingkat tinggi Majelis Umum PBB.Meski tantangan yang dihadapi besar, Brigitta tetap optimistis. Ia percaya pendidikan menjadi kunci untuk menciptakan perubahan jangka panjang.Menurutnya, semakin banyak anak muda yang memahami pentingnya menjaga laut, semakin besar peluang untuk menyelamatkan ekosistem ini di masa depan. Upayanya melalui 30×30 Indonesia dan Diverseas pun terus diperluas ke lebih banyak komunitas, baik di dalam negeri maupun global.Kisah Brigitta Gunawan menjadi bukti bahwa satu pengalaman sederhana dapat memicu gerakan besar. Dengan kombinasi teknologi, edukasi, dan aksi nyata, anak muda Indonesia mampu berkontribusi dalam menjaga kelestarian bumi-terutama ekosistem laut yang menjadi penopang kehidupan jutaan manusia.
(afr/afr)


